SERANG, BANTEN – Menjawab tantangan akademik di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Organisasi Kemahasiswaan “IKM” Universitas Terbuka (UT) Serang Kabinet Nawasena sukses menyelenggarakan kegiatan edukasi berskala besar bertajuk “Workshop Academic Writing Skills: Teknik Penulisan, Sitasi, dan Etika Akademik”. Mengusung tema Peningkatan Keterampilan Menulis Ilmiah Berbasis Digital, kegiatan ini digelar di Kampus UT Serang, Pakupatan, dengan diikuti secara antusias oleh seluruh pengurus Ormawa “IKM” periode 2026–2028 serta mahasiswa UT Serang yang sedang mempersiapkan tugas akhir mereka.

Sebagai perguruan tinggi negeri yang menerapkan sistem belajar jarak jauh, UT Serang berkomitmen penuh untuk mendorong kemandirian mahasiswa, terutama dalam memenuhi kewajiban menyusun Artikel Ilmiah (Aril) sebagai syarat kelulusan. Menyadari banyaknya kendala teknis dan kecemasan mahasiswa akan praktik plagiarisme di tengah maraknya pemanfaatan teknologi, workshop ini hadir sebagai ruang adaptasi yang strategis. Tanpa adanya seremonial panjang, kegiatan edukatif ini langsung dibuka oleh Yus Alvar Saabighoot, M.Pd., selaku narasumber utama sekaligus Pengarah Ormawa, yang langsung mengondisikan jalannya pelatihan agar berlangsung taktis dan substansial.

Puncak acara diisi dengan pemaparan materi komprehensif sekaligus sesi praktik langsung yang dipandu oleh Yus Alvar Saabighoot Dalam sesi tersebut, ia membedah tuntas teknik penulisan ilmiah, manajemen sitasi, hingga integrasi alat-alat digital dan AI dalam dunia riset. Mahasiswa dibimbing secara taktis mengeksplorasi pemanfaatan aplikasi Microsoft Word untuk standardisasi dokumen, pengelolaan referensi otomatis menggunakan Mendeley, hingga strategi alur kerja literatur tingkat lanjut demi menjaga orisinalitas tulisan agar lolos dari deteksi Turnitin.

Di sela-sela simulasi penulisan, Yus Alvar Saabighoot secara khusus memberikan penekanan keras mengenai batasan moral teknologi. Beliau mengingatkan bahwa kehadiran kecerdasan buatan bukanlah instrumen untuk mengambil alih proses berpikir, melainkan alat bantu efisiensi. “Dalam penggunaan AI untuk penulisan artikel ilmiah, mahasiswa harus jauh lebih memperhatikan aturan akademik dan dituntut lebih bijak dalam menggunakannya. Fondasi utama dari sebuah karya ilmiah yang layak disebarluaskan di kancah nasional maupun internasional adalah kejujuran mengutip dan keteguhan menjaga etika akademik,” tegasnya di hadapan para peserta.

Memasuki sesi akhir, suasana workshop dipenuhi oleh testimoni positif dari para peserta yang hadir. Mahasiswa mengaku sangat antusias, merasa terbantu, dan merasa tercerahkan dalam menyusun serta mempersiapkan pembuatan artikel ilmiah mereka yang semula dianggap momok menakutkan. Mengingat pentingnya materi yang disampaikan, para mahasiswa menyampaikan harapan besar kepada pihak panitia agar dapat menyelenggarakan batch atau gelombang lanjutan di masa mendatang. Mereka berharap ada pelatihan berikutnya yang mengupas secara lebih detail dan mendalam mengenai teknik spesifik penggunaan AI guna terus meningkatkan keterampilan menulis ilmiah mereka.
Writer/Uploader : yas