02 Jul 2026 Tak Berkategori

Menyusun Peta Jalan PkM Berbasis Data, UT Serang Gali Kekayaan Lokal Menuju Banten yang Mandiri dan Unggul

SERANG — Sebagai wujud nyata perannya sebagai motor pembangunan daerah, Universitas Terbuka (UT) Serang menggelar Focus Group Discussion (FGD) sekaligus Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam kerangka skema Equity–World Class University (WCU) 2026. Kegiatan berlangsung Kamis, 25 Juni 2026, di Hotel Wisata Baru, Kota Serang, Provinsi Banten, dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. Selama lima jam itu, forum ini tampil sebagai salah satu ajang lintas pemangku kepentingan paling lengkap yang pernah digelar sebuah perguruan tinggi di Banten.

Mengusung tema besar “Penguatan Potensi Lokal Kota dan Kabupaten Serang”, seluruh pembiayaan kegiatan ini ditopang penuh oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) lewat skema Equity–WCU 2026 — penanda bahwa agenda pemberdayaan ekonomi lokal berbasis riset kampus kini benar-benar menjadi perhatian di tingkat nasional. Dalam satu meja diskusi yang tertata rapi, forum ini mempertemukan Pemerintah Provinsi Banten, pemerintah kota dan kabupaten, asosiasi profesi, akademisi dari berbagai perguruan tinggi, pelaku UMKM, hingga aparat kewilayahan. Pola bottom-up semacam ini terbilang langka, namun justru itulah yang paling dibutuhkan agar program pengabdian masyarakat benar-benar relevan dan berdampak.

Ada lima sektor yang menjadi sasaran utama kegiatan ini karena dinilai sebagai tulang punggung pembangunan Banten: pertanian dan ketahanan pangan, perikanan, pendidikan, pariwisata dan perhotelan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Segala temuan dari FGD ini nantinya akan menjadi rujukan utama dalam penyusunan proposal PkM para dosen UT, sekaligus mempererat sinergi antara UT Serang, LPPM UT Pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat Banten.

Forum ini dihadiri jajaran pemangku kepentingan strategis dari berbagai instansi pemerintah, kalangan akademisi, hingga pelaku usaha se-Provinsi Banten. Turut memberikan sumbang pemikiran para pimpinan dan perwakilan instansi teknis, di antaranya Dr. Nasir, S.P., M.B.A., M.P. selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten yang juga merangkap Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten; Andriyani, S.P., M.Si. selaku Kepala Bidang Pertanian dan Penyuluhan DKP3 Kota Serang mewakili Kepala DPK3 Kota Serang; serta Noor Amalia, S.Pi., M.M. selaku Analis Akuakultur Ahli Muda DKP3 Kabupaten Serang mewakili Kepala DKP3 Kabupaten Serang. Dari sektor pendidikan hadir Doddy Irawan, S.T., M.Si. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak; Dr. H. Edi Junaedi, M.Pd. selaku Kepala Seksi Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Serang mewakili Kepala Dinas; serta Dr. Cecep Nikmatullah, M.Pd.I. selaku Penelaah Kebijakan Dinas Pendidikan Kota Serang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang. Hadir pula Dr. H. Sutoto, S.Pd., M.Si. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang.

Sebagai penyelenggara, kegiatan ini dikomandoi langsung oleh Direktur Universitas Terbuka Serang, Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd., dengan menghadirkan narasumber dan pakar dari perguruan tinggi terkemuka, yakni Dr. Ujang Jamaludin, S.Pd., M.Si., M.Pd. dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dan Dr. Encep Supriatna, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Jalannya diskusi dipandu oleh Yus Alvar Saabighoot, M.Pd., salah satu dosen UT Serang, yang bertindak sebagai moderator FGD. Forum ini juga diperkuat kehadiran unsur pemerintah daerah setempat, yaitu H. Basuni, S.Sos., M.Si. selaku Camat Serang beserta jajaran Lurah di Kota dan Kabupaten Serang. Dari sisi industri dan kewirausahaan, hadir Ashok Kumar selaku Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten, didampingi perwakilan pelaku UMKM Kota dan Kabupaten Serang. Kehadiran seluruh peserta dan tamu undangan ini menjadi elemen penting dalam merajut sinergi menyeluruh bagi pembangunan Banten di masa mendatang.

Sebagai motor penggerak kegiatan ini, Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd. memaparkan visi besar di balik penyelenggaraan FGD dan Diseminasi Hasil PkM. Menurutnya, Banten menyimpan kekayaan potensi lokal yang luar biasa — dari kuliner khas hingga kerajinan tangan — namun sayangnya belum tergarap maksimal dari sisi kemasan, strategi pemasaran, dan penetrasi pasar. Ia menegaskan bahwa tugas perguruan tinggi tidak berhenti pada menghasilkan ilmu di atas kertas, melainkan menerjemahkan kepakaran akademik menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Baginya, kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan dunia usaha adalah kunci agar produk lokal Banten tidak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.

“Banyak potensi lokal kita yang sebenarnya bernilai tinggi, seperti gipang, rengginang, sate bandeng, dendeng, hingga kerajinan golok khas Banten, tetapi belum digarap secara maksimal. Jika dikemas dengan strategi yang tepat, nilai jualnya bisa jauh lebih besar,” ujarnya.

Kehadiran langsung Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D., selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Terbuka, menjadi penanda kuat betapa seriusnya komitmen UT Pusat mendukung program pengabdian yang berangkat dari kebutuhan riil daerah. Sang guru besar memberi apresiasi tinggi kepada tim pelaksana pimpinan Dr. Ajat Sudrajat yang berhasil mengorkestrasi forum multi-pemangku kepentingan sekompleks ini. Ia secara khusus menekankan pentingnya tindak lanjut yang terstruktur atas seluruh rekomendasi yang dihasilkan FGD, agar tidak sekadar menjadi wacana, melainkan benar-benar menjelma peta jalan yang implementatif bagi program PkM dosen UT ke depan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada LPDP atas dukungan pendanaan melalui skema Equity–WCU 2026 yang membuat kegiatan ini bisa terselenggara.

“Harapan saya, semua yang telah dibahas dalam FGD dan Diseminasi Hasil PkM skema Equity–WCU 2026 ini bisa dirangkum menjadi daftar yang konkret, sehingga dapat menjadi acuan dasar bagi program-program pengabdian masyarakat berikutnya,” ungkapnya.

Kehadiran Dr. Nasir mewakili pemerintah provinsi menegaskan bahwa isu ketahanan pangan dan modernisasi pertanian mendapat perhatian serius dari level provinsi. Dalam paparannya, ia memetakan lima persoalan mendesak di sektor pertanian Banten yang membutuhkan sentuhan akademik: tingginya laju alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi permukiman dan kawasan industri yang mengancam ketersediaan pangan; minat generasi muda yang masih rendah untuk terjun ke pertanian modern; kesenjangan kompetensi penyuluh pertanian di lapangan; ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan perubahan iklim terhadap siklus panen; serta rendahnya nilai tukar petani akibat manajemen usaha yang belum mandiri. Kendati ketersediaan pangan Banten saat ini masih dalam batas cukup, Nasir menegaskan bahwa percepatan efisiensi dan transformasi sektor pertanian lewat teknologi dan peningkatan SDM sudah tidak bisa ditunda lagi. Ia membuka ruang kemitraan yang lebih erat antara Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian Provinsi Banten, dan UT Serang dalam program pengabdian berbasis riset yang bisa langsung diterapkan di lapangan.

“Pertanian adalah salah satu prioritas pembangunan Banten dengan potensi besar yang masih bisa terus dikembangkan. Namun kita tetap perlu upaya ekstra untuk mendorong efisiensi dan efektivitasnya, di antaranya lewat pemanfaatan teknologi, inovasi, serta peningkatan kualitas SDM,” tuturnya.

Mewakili Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Serang, Noor Amalia, S.Pi., M.M. menggambarkan sektor perikanan yang masih memerlukan transformasi mendasar. Sebagian besar sistem budidaya di wilayah ini masih menerapkan metode tradisional dengan produktivitas rendah dan rawan serangan penyakit udang maupun ikan. Di sisi hilir, lemahnya proses pengolahan membuat banyak hasil tangkapan nelayan hanya dijual dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah yang berarti. Ia mendorong UT Serang untuk menginisiasi model Desa Binaan, di mana dosen dan mahasiswa dapat mendampingi masyarakat secara intensif dalam teknologi budidaya modern, manajemen biosekuriti, dan tata kelola kolam yang baik. Ia juga mengusulkan pelatihan bagi Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) untuk mendorong diversifikasi produk olahan perikanan, seperti frozen food dan produk ikan kreatif lainnya, sekaligus meningkatkan standar keamanan pangan agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

“Budidaya perikanan kami masih didominasi metode tradisional. Kami membutuhkan pendampingan teknologi dari perguruan tinggi agar modernisasi dan hilirisasi produk perikanan bisa berjalan, sehingga nelayan dan pembudidaya mendapat nilai tambah yang lebih besar,” jelasnya.

Menyoroti sektor pertanian di kawasan perkotaan, Andriyani, S.P., M.Si., Kepala Bidang Pertanian dan Penyuluhan DKP3 Kota Serang, mengangkat persoalan yang kian mendesak: laju alih fungsi lahan sawah di wilayah kota yang semakin cepat dan langsung mengancam kedaulatan pangan lokal. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan lahan produktif yang tersisa di tengah tekanan urbanisasi yang terus bertambah. Ia mendorong UT Serang untuk menggagas riset seputar konsep “Pertanian Perkotaan” atau urban farming sebagai solusi adaptif, sekaligus memberikan rekomendasi kebijakan perlindungan lahan berbasis data GIS kepada pemerintah daerah. Menurutnya, keterlibatan dosen dan mahasiswa UT dalam penyuluhan pertanian perkotaan akan sangat membantu masyarakat memanfaatkan lahan terbatas secara produktif dan berkelanjutan.

“Alih fungsi lahan sawah di Kota Serang berjalan sangat cepat. Kami memerlukan kajian ilmiah tentang urban farming dan rekomendasi kebijakan berbasis data untuk menjaga kedaulatan pangan di tingkat kota, dan UT Serang adalah mitra yang tepat untuk itu,” terangnya.

Dari sektor pendidikan tingkat kota, Cecep Nikmatullah, M.Pd.I., Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang, menyampaikan dua tantangan paling krusial di wilayahnya. Pertama, kekurangan tenaga pengajar yang cukup signifikan di jenjang SD maupun SMP, yang berimbas langsung pada kualitas dan pemerataan layanan pendidikan. Kedua, masih tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) akibat kendala ekonomi dan keterbatasan akses. Ia mengusulkan dua langkah konkret kepada UT Serang: program percepatan kualifikasi akademik guru melalui jalur Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), serta penelitian pemetaan ATS berbasis data spasial untuk menemukan akar masalah di tiap wilayah dan merumuskan model intervensi pendidikan non-formal yang paling sesuai. Keunggulan UT Serang dalam sistem PJJ dinilainya menjadikan kampus ini mitra paling ideal untuk menjawab kedua persoalan tersebut.

“Kekurangan guru dan tingginya angka anak tidak sekolah adalah dua persoalan yang saling terkait. Kami percaya sistem PJJ UT Serang yang sudah matang bisa mempercepat kualifikasi guru, sekaligus membantu kami memetakan dan menangani ATS secara lebih terstruktur,” tegasnya.

Dr. H. Edi Junaedi, M.Pd., Kepala Seksi Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Serang, menambahkan perspektif kabupaten atas tantangan SDM pendidikan ini. Ia menekankan bahwa pemerataan kualitas dan distribusi guru di seluruh wilayah Kabupaten Serang — termasuk kawasan pedesaan dan terpencil — memerlukan solusi sistemik yang tidak lagi cukup mengandalkan mekanisme konvensional. Program PJJ UT Serang dipandangnya sebagai jawaban paling aplikatif untuk mempercepat peningkatan kualifikasi akademik guru yang belum memenuhi standar, sekaligus mendukung tumbuhnya komunitas belajar guru yang inklusif dan berkelanjutan. Ia juga menyoroti kebutuhan pelatihan kompetensi pedagogik berbasis daring yang fleksibel, mengingat banyak guru di wilayah kabupaten sulit meninggalkan tugas mengajar untuk mengikuti pelatihan tatap muka dalam waktu lama.

“Peningkatan kompetensi dan kualifikasi guru di Kabupaten Serang adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan ribuan peserta didik. Kolaborasi dengan UT Serang lewat jalur PJJ dan pelatihan daring adalah solusi paling realistis dan efisien bagi kondisi kami,” tekannya.

Membawa perspektif berbeda dari ujung selatan Banten, Doddy Irawan, S.T., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, mengangkat kompleksitas khas daerahnya sebagai rumah bagi masyarakat adat Baduy — komunitas yang memegang teguh tradisi sebagai identitas kultural mereka. Menurutnya, akses dan layanan pendidikan bagi komunitas ini menuntut pendekatan yang sangat berhati-hati agar tidak berbenturan dengan nilai-nilai adat setempat. Ia mendorong UT Serang mengembangkan modul pendidikan kontekstual yang memasukkan kearifan lokal ke dalam kurikulum formal, ditopang metode PJJ yang tetap menghormati privasi dan aturan adat komunitas Baduy. Ia juga menyinggung disparitas kualitas SDM di wilayahnya yang membutuhkan solusi menyeluruh, mulai dari digitalisasi administrasi sekolah hingga penguatan literasi-numerasi yang adaptif terhadap konteks lokal.

“Pendidikan di Lebak tidak bisa disamakan begitu saja dengan daerah lain. Kami punya tanggung jawab melayani masyarakat adat Baduy dengan pendekatan yang menghormati kearifan lokal mereka, dan kami membutuhkan dukungan akademik UT Serang untuk membangun model pendidikan yang kontekstual dan inklusif,” harapnya.

Dr. H. Sutoto, S.Pd., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang, menyoroti kesenjangan antara kualitas lulusan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja di daerahnya. Disparitas kualitas SDM serta kesiapan lulusan yang belum sepenuhnya sejalan dengan peluang kerja di sektor industri lokal menjadi persoalan utama yang ia angkat. Ia mendorong UT Serang untuk berkontribusi membangun kurikulum vokasional yang selaras dengan kebutuhan industri Pandeglang melalui kolaborasi link and match yang terstruktur. Ia juga menekankan urgensi pelatihan literasi digital bagi siswa dan tenaga pengajar guna mendongkrak daya saing lulusan di pasar kerja yang semakin digital. Menurutnya, program pengabdian UT di bidang pendidikan vokasional dan penguatan kompetensi digital adalah intervensi yang paling dibutuhkan saat ini oleh Pandeglang.

“Kami ingin lulusan Pandeglang tidak hanya siap kerja secara teknis, tapi juga kompeten secara digital. Kolaborasi link and match antara sekolah-sekolah kami dengan UT Serang dalam mengembangkan kurikulum vokasional adalah langkah yang kami nantikan,” tuturnya.

Kehadiran Ashok Kumar, Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten, membuka dimensi baru dalam forum ini: sudut pandang pelaku industri yang selama ini jarang duduk satu meja bersama akademisi dan pemerintah daerah dalam perencanaan PkM. Menurutnya, industri perhotelan dan restoran di Banten adalah pasar yang nyata dan besar — jika produk UMKM lokal mampu memenuhi standar kualitas, kemasan, dan kontinuitas produksi yang dibutuhkan industri, dampak ekonominya bagi masyarakat akar rumput bisa sangat besar. Ia mendorong agar program pemberdayaan UMKM yang dirancang UT Serang benar-benar memperhatikan standar kebutuhan industri perhotelan, mencakup keamanan pangan, konsistensi produk, dan kapasitas produksi. Keterlibatan PHRI dalam ekosistem PkM ini dinilainya sebagai jembatan strategis yang dapat mempersingkat jarak antara produksi UMKM lokal dan akses ke rantai pasok hotel serta restoran berbintang di Banten.

“PHRI sangat terbuka menjadi pasar bagi produk UMKM lokal Banten yang berkualitas. Jika UT Serang bisa membantu meningkatkan standar produk dan kapasitas produksi UMKM lewat program pengabdiannya, kami siap menjadi jembatan distribusi ke industri perhotelan dan restoran,” paparnya.

Menguatkan perspektif tersebut, para perwakilan pelaku UMKM dari Kota dan Kabupaten Serang turut berbagi kesaksian tentang tantangan yang mereka hadapi sehari-hari. Mereka menegaskan bahwa kendala utama yang menahan laju usaha bukan lagi sekadar modal, melainkan keterbatasan akses ke jejaring pasar yang lebih luas. Secara spesifik, para pelaku usaha kecil ini mendambakan pendampingan di tiga aspek: penetrasi pasar agar produk bisa masuk ritel modern, digitalisasi pemasaran untuk memperluas jangkauan konsumen, serta standardisasi pengemasan dan branding demi mendongkrak nilai jual dan daya saing di mata konsumen kelas menengah. Bagi mereka, campur tangan akademik dari UT Serang sangat dinantikan sebagai pemicu perubahan dari pola bisnis tradisional menjadi lebih profesional dan berorientasi pasar.

“Semangat kami untuk berkembang besar, tapi sering terbentur soal teknis pemasaran. Kami berharap UT Serang bisa membimbing kami agar produk lokal ini tak hanya dikenal di sekitar sini, tapi mampu bersaing secara digital dan menembus jaringan pasar yang lebih luas,” ungkap salah satu perwakilan UMKM.

Keikutsertaan Dr. Ujang Jamaludin, S.Pd., M.Si., M.Pd. dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mencerminkan semangat kolaborasi antarperguruan tinggi yang menjadi salah satu pilar penting keberhasilan program pengabdian masyarakat yang berdampak luas. Sebagai akademisi dari perguruan tinggi negeri terkemuka di Banten dengan akar historis yang kuat di bidang pendidikan dan pengembangan masyarakat, ia menghadirkan perspektif riset dan keilmuan yang memperkaya diskusi, sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik antarinstitusi. Kehadirannya mempertegas komitmen komunitas akademik Banten untuk bersama-sama berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah, sembari menjajaki titik-titik sinergi antara Untirta dan UT Serang dalam program penelitian dan pengabdian masyarakat yang lebih komprehensif dan berdampak.

“Kolaborasi antarperguruan tinggi dalam program pengabdian masyarakat adalah kunci menghasilkan dampak yang jauh lebih besar. Untirta dan UT Serang punya keunggulan yang saling melengkapi, dan forum ini adalah titik awal yang baik untuk membangun sinergi akademik yang lebih kuat demi kemajuan Banten,” ungkapnya.

Dr. Encep Supriatna, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang melengkapi representasi akademisi dalam forum ini dengan perspektif dari lembaga pendidikan tinggi yang berfokus pada pengembangan ilmu pendidikan dan inovasi pembelajaran. Kehadirannya memperkuat ekosistem kolaborasi multi-perguruan tinggi yang menjadi landasan penting bagi keberlanjutan dan skalabilitas program PkM UT Serang. Ia berperan aktif memberikan perspektif akademik atas hasil-hasil program pengabdian yang telah berjalan, memfasilitasi pertukaran pengalaman antarinstitusi, serta menjajaki peluang implementasi dan pengembangan model pengabdian pada berbagai konteks pendidikan. Keterlibatan UPI Kampus Serang diharapkan memperluas pemanfaatan hasil PkM di tingkat regional dan nasional, sekaligus mendorong penguatan jejaring kolaborasi akademik yang lebih inklusif dan berdampak bagi masyarakat Banten.

“Forum ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh bergerak sendiri-sendiri. Sinergi UT Serang, UPI, dan Untirta dalam mendiseminasikan hasil pengabdian masyarakat adalah model kolaborasi yang perlu terus dikembangkan sebagai kontribusi nyata dunia akademik bagi pembangunan Provinsi Banten,” ujarnya.

Dari seluruh paparan narasumber dan diskusi yang berlangsung intensif, FGD ini berhasil merumuskan lima tema besar kebutuhan PkM yang mendesak dan harus menjadi prioritas program pengabdian dosen UT pada periode berikutnya:

Pertama, modernisasi dan hilirisasi pertanian serta perikanan — menjawab persoalan alih fungsi lahan, rendahnya nilai tukar petani, lemahnya rantai nilai pascapanen, dan perlunya penerapan smart farming serta diversifikasi produk bernilai tambah tinggi. Kedua, regenerasi SDM pertanian dan perikanan — petani muda, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha perikanan membutuhkan pelatihan kapasitas berbasis teknologi lewat program inkubasi semacam “Petani Milenial”. Ketiga, pemerataan akses dan kualitas pendidikan — meliputi isu literasi-numerasi, digitalisasi administrasi sekolah, peningkatan kualifikasi guru melalui PJJ, penanganan anak tidak sekolah, serta pendekatan inklusif bagi kawasan adat Baduy di Kabupaten Lebak. Keempat, pengembangan UMKM dan digitalisasi pemasaran — Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar), UMKM kuliner, dan produk lokal membutuhkan pendampingan digital marketing, penguatan branding, serta akses ke pasar modern termasuk jaringan PHRI. Kelima, penguatan kearifan lokal dalam pembangunan — setiap intervensi di Lebak dan Pandeglang harus peka terhadap nilai adat dan budaya setempat, khususnya program yang bersentuhan dengan komunitas adat Baduy.

FGD dan Diseminasi Hasil PkM Skema Equity–WCU 2026 ini hadir pada momentum yang sangat strategis, ketika pemerintah pusat tengah memperkuat agenda ketahanan pangan nasional dan mempercepat digitalisasi UMKM sebagai salah satu pilar pemulihan ekonomi pascapandemi. Dengan berhasil menghadirkan lebih dari sepuluh institusi — mulai dari pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten, perguruan tinggi, asosiasi profesi, hingga pelaku UMKM — dalam satu forum yang terstruktur dan produktif, UT Serang membuktikan dirinya bukan sekadar institusi pendidikan yang bekerja di balik tembok kampus.

UT Serang menegaskan posisinya sebagai agen perubahan yang turun langsung ke akar rumput, dengan keyakinan bahwa “emas” Banten yang sesungguhnya bukan tersimpan di bawah tanah, melainkan berada di tangan para pengrajin golok, penjual sate bandeng, perajin rengginang, petani milenial, dan guru-guru berdedikasi yang selama ini belum mendapat panggung yang layak. Program PkM yang lahir dari peta kebutuhan hasil FGD ini diharapkan menjadi fondasi bagi kemitraan formal yang berkelanjutan, sehingga mampu menghadirkan dampak pembangunan yang lebih adil, merata, dan berwawasan kearifan lokal bagi seluruh masyarakat Provinsi Banten. Writer/Uploader  : mar/yas

Bagikan Artikel:
Hubungi Kami (WA)