27 Jul 2026 Tak Berkategori

PELESTARIAN KULTUR BANTEN: 43 GURU SMK NEGERI 9 PANDEGLANG IKUTI PELATIHAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS BUDAYA BANTEN

PANDEGLANG, 15 Juli 2026 — Sebanyak 43 guru SMK Negeri 9 Pandeglang mengikuti kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pelestarian Kultur melalui Pelatihan Guru dalam Mengembangkan Bahan Ajar Berbasis EthnoSTEAM Berbantuan Aplikasi ‘Smart EthnoSphere’” yang digelar Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini digagas untuk membekali para pendidik dengan kemampuan merancang bahan ajar yang memadukan sains modern dengan kearifan budaya lokal Banten, sekaligus menjawab tantangan pendidikan di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala SMK Negeri 9 Pandeglang, Bapak Alan Agus Mulya, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan semangat para guru yang hadir.

“Kami sangat mengapresiasi dedikasi dan semangat guru-guru yang hadir pada hari ini. Inisiatif pelatihan ini sangat krusial bagi SMK Negeri 9 Pandeglang untuk terus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara kompetensi teknis dan siap kerja, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan kecintaan yang mendalam terhadap kekayaan budaya lokal kita. Guru adalah ujung tombak dari visi tersebut,” ujar Bapak Alan Agus Mulya, M.Pd.

Lebih jauh, beliau berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar diterapkan di ruang kelas. “Kami berharap bahan ajar yang dihasilkan dari pelatihan ini dapat diimplementasikan langsung di dalam kelas. Dalam jangka panjang, kami berharap upaya ini dapat meningkatkan awareness atau kesadaran siswa terhadap budaya yang ada di sekitar mereka,” tuturnya.

Urgensi kegiatan ini turut disampaikan oleh Ketua Pelaksana, Mohamad Arif Rahmansyah, M.Pd. dalam sambutannya, yang menyoroti fenomena pergeseran budaya di kalangan pelajar sebagai latar belakang utama pelatihan.

“Dunia pendidikan saat ini tengah dihadapkan pada sebuah tantangan besar: bagaimana mempersiapkan generasi muda yang cakap menghadapi kemajuan sains dan teknologi abad ke-21, tanpa harus kehilangan akar budaya dan jati diri bangsanya. Arus globalisasi dan digitalisasi yang begitu deras kerap kali membuat kekayaan budaya lokal perlahan tergerus dan mulai dilupakan, terutama oleh generasi muda,” ujar Ketua Pelaksana kegiatan.

Ia menegaskan bahwa di titik inilah peran guru menjadi sangat strategis. “Di sinilah letak peran strategis seorang guru, yaitu menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan modern dengan kearifan lokal, agar keduanya dapat tumbuh berdampingan dan saling memperkaya,” tegasnya.

Kegiatan yang dipandu oleh narasumber utama Mohamad Arif Rahmansyah, M.Pd. beserta tim fasilitator ini mengusung pendekatan EthnoSTEAM yaitu pendekatan pembelajaran yang memadukan unsur budaya (etno) dengan Sains, Teknologi, Teknik (Engineering), Seni, dan Matematika ke dalam satu kesatuan bahan ajar yang inovatif namun tetap berakar pada kearifan lokal.

Sebagai alat bantu praktis, para peserta diperkenalkan dan dilatih menggunakan aplikasi “Smart EthnoSphere”. Aplikasi ini memuat daftar adat dan tradisi khas daerah Banten, lengkap dengan contoh konkret penerapannya dalam berbagai kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga memudahkan guru mengaitkan materi pelajaran vokasi dengan kekayaan budaya lokal secara terstruktur, interaktif, dan menarik.

Pelatihan berlangsung selama satu hari penuh dengan rangkaian sesi yang terstruktur. Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Sesi 1: Penanaman Persepsi untuk menyamakan visi, misi, dan paradigma guru mengenai pentingnya integrasi budaya lokal dalam bahan ajar, kemudian Sesi 2: Strategi Pengembangan Bahan Ajar Terintegrasi Budaya, yang membedah secara teknis bagaimana mengaitkan kearifan lokal Banten ke berbagai mata pelajaran vokasi.

Memasuki sesi siang, guru dibagi sesuai rumpun mata pelajaran masing-masing dalam Sesi 3: Workshop & Praktik Mandiri untuk langsung menyusun draf bahan ajar EthnoSTEAM. Kolaborasi dan antusiasme yang intens terlihat pada sesi ini, membuktikan bahwa konsep EthnoSTEAM sangat aplikatif untuk diterapkan di ruang kelas.

Rangkaian pelatihan kemudian ditutup dengan Sesi 4: Peer Review dan Presentasi Produk, di mana perwakilan guru mempresentasikan draf bahan ajar yang telah disusun. Sesi ini tidak hanya berfokus pada evaluasi dari narasumber, tetapi juga mengedepankan tinjauan sejawat (peer review) antarguru, sehingga tercipta ekosistem belajar yang dinamis di antara sesama tenaga pendidik.

Sebagai penutup, kegiatan ini menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) beserta penentuan tenggat waktu pengumpulan bahan ajar utuh dari masing-masing peserta, guna memastikan hasil pelatihan benar-benar terimplementasi di sekolah.

“Besar harapan kami, kegiatan pelatihan ini tidak berhenti sekadar menjadi ruang pemaparan teori semata, melainkan dapat menjelma menjadi wadah kolaborasi yang aktif, interaktif, dan berkelanjutan. Lebih jauh lagi, kami berharap kegiatan ini kelak dapat menjadi salah satu rujukan pembelajaran berbasis kearifan lokal, tidak hanya bagi SMK Negeri 9 Pandeglang, tetapi juga bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya,” ujar Ketua Pelaksana.

Melalui sinergi antara sains modern, teknologi, dan kearifan lokal, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam melestarikan budaya bangsa melalui pendidikan yang bermutu dan berkarakter.

Bagikan Artikel:
Hubungi Kami (WA)